Laman

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2011

Asma'ul Husna


Dalam agama IslamAsmaa'ul husna adalah nama-nama Allah ta'ala yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berati yang baik atau yang indah jadi Asma'ul Husna adalah nama nama milik Allah ta'ala yang baik lagi indah.
Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak bolehmusyrik dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta'ala. Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan 4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikatDzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi Muhammad SAW.
Asmaaulhusna secara harfiah ialah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah.
Para ulama berpendapat bahwa kebenaran adalah konsistensi dengan kebenaran yang lain. Dengan cara ini, umat Muslim tidak akan mudah menulis"Allah adalah ...", karena tidak ada satu hal pun yang dapat disetarakan dengan Allah, akan tetapi harus dapat mengerti dengan hati dan keteranga Al-Qur'an tentang Allah ta'ala. Pembahasan berikut hanyalah pendekatan yang disesuaikan dengan konsep akal kita yang sangat terbatas ini. Semua kata yang ditujukan pada Allah harus dipahami keberbedaannya dengan penggunaan wajar kata-kata itu. Allah itu tidak dapat dimisalkan atau dimiripkan dengan segala sesuatu, seperti tercantum dalam surat Al-Ikhlas.
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha EsaAllah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (QS. Al-Ikhlas : 1-4)
Para ulama menekankan bahwa Allah adalah sebuah nama kepada Dzat yang pasti ada namanya. Semua nilai kebenaran mutlak hanya ada (dan bergantung) pada-Nya. Dengan demikian, Allah Yang Memiliki Maha Tinggi. Tapi juga Allah Yang Memiliki Maha DekatAllah Memiliki Maha Kuasa dan juga Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sifat-sifat Allah dijelaskan dengan istilah Asmaaul Husna, yaitu nama-nama, sebutan atau gelar yang baik.

Berikut adalah beberapa terjemahan dalil yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Hadits tentang asmaa'ul husna:Dalil

  • "Dialah Allah, tidak ada Tuhan/Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaa'ul husna (nama-nama yang baik)." - (Q.S. Thaa-Haa : 8)
  • Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" - (Q.S Al-Israa': 110)
  • "Allah memiliki Asmaa' ulHusna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu..." - (QS. Al-A'raaf : 180)


Asma Al-Husna

No.NamaArabIndonesia
AllahاللهAllah
1Ar RahmanالرحمنYang Maha Pengasih
2Ar RahiimالرحيمYang Maha Penyayang
3Al MalikالملكYang Maha Merajai/Memerintah
4Al QuddusالقدوسYang Maha Suci
5As SalaamالسلامYang Maha Memberi Kesejahteraan
6Al Mu`minالمؤمنYang Maha Memberi Keamanan
7Al MuhaiminالمهيمنYang Maha Pemelihara
8Al `AziizالعزيزYang Memiliki Mutlak Kegagahan
9Al JabbarالجبارYang Maha Perkasa
10Al MutakabbirالمتكبرYang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11Al KhaliqالخالقYang Maha Pencipta
12Al Baari`البارئYang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13Al MushawwirالمصورYang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
14Al GhaffaarالغفارYang Maha Pengampun
15Al QahhaarالقهارYang Maha Memaksa
16Al WahhaabالوهابYang Maha Pemberi Karunia
17Ar RazzaaqالرزاقYang Maha Pemberi Rejeki
18Al FattaahالفتاحYang Maha Pembuka Rahmat
19Al `AliimالعليمYang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20Al QaabidhالقابضYang Maha Menyempitkan (makhluknya)
21Al BaasithالباسطYang Maha Melapangkan (makhluknya)
22Al KhaafidhالخافضYang Maha Merendahkan (makhluknya)
23Ar Raafi`الرافعYang Maha Meninggikan (makhluknya)
24Al Mu`izzالمعزYang Maha Memuliakan (makhluknya)
25Al MudzilالمذلYang Maha Menghinakan (makhluknya)
26Al Samii`السميعYang Maha Mendengar
27Al BashiirالبصيرYang Maha Melihat
28Al HakamالحكمYang Maha Menetapkan
29Al `AdlالعدلYang Maha Adil
30Al LathiifاللطيفYang Maha Lembut
31Al KhabiirالخبيرYang Maha Mengenal
32Al HaliimالحليمYang Maha Penyantun
33Al `AzhiimالعظيمYang Maha Agung
34Al GhafuurالغفورYang Maha Pengampun
35As SyakuurالشكورYang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36Al `AliyالعلىYang Maha Tinggi
37Al KabiirالكبيرYang Maha Besar
38Al HafizhالحفيظYang Maha Memelihara
39Al MuqiitالمقيتYang Maha Pemberi Kecukupan
40Al HasiibالحسيبYang Maha Membuat Perhitungan
41Al JaliilالجليلYang Maha Mulia
42Al KariimالكريمYang Maha Mulia
43Ar RaqiibالرقيبYang Maha Mengawasi
44Al MujiibالمجيبYang Maha Mengabulkan
45Al Waasi`الواسعYang Maha Luas
46Al HakiimالحكيمYang Maha Maka Bijaksana
47Al WaduudالودودYang Maha Mengasihi
48Al MajiidالمجيدYang Maha Mulia
49Al Baa`itsالباعثYang Maha Membangkitkan
50As SyahiidالشهيدYang Maha Menyaksikan
51Al HaqqالحقYang Maha Benar
52Al WakiilالوكيلYang Maha Memelihara
53Al QawiyyuالقوىYang Maha Kuat
54Al MatiinالمتينYang Maha Kokoh
55Al WaliyyالولىYang Maha Melindungi
56Al HamiidالحميدYang Maha Terpuji
57Al MuhshiiالمحصىYang Maha Mengkalkulasi
58Al Mubdi`المبدئYang Maha Memulai
59Al Mu`iidالمعيدYang Maha Mengembalikan Kehidupan
60Al MuhyiiالمحيىYang Maha Menghidupkan
61Al MumiituالمميتYang Maha Mematikan
62Al HayyuالحيYang Maha Hidup
63Al QayyuumالقيومYang Maha Mandiri
64Al WaajidالواجدYang Maha Penemu
65Al MaajidالماجدYang Maha Mulia
66Al WahiidالواحدYang Maha Tunggal
67Al AhadالاحدYang Maha Esa
68As ShamadالصمدYang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69Al QaadirالقادرYang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70Al MuqtadirالمقتدرYang Maha Berkuasa
71Al MuqaddimالمقدمYang Maha Mendahulukan
72Al Mu`akkhirالمؤخرYang Maha Mengakhirkan
73Al AwwalالأولYang Maha Awal
74Al AakhirالأخرYang Maha Akhir
75Az ZhaahirالظاهرYang Maha Nyata
76Al BaathinالباطنYang Maha Ghaib
77Al WaaliالواليYang Maha Memerintah
78Al Muta`aaliiالمتعاليYang Maha Tinggi
79Al BarriالبرYang Maha Penderma
80At TawwaabالتوابYang Maha Penerima Tobat
81Al MuntaqimالمنتقمYang Maha Pemberi Balasan
82Al AfuwwالعفوYang Maha Pemaaf
83Ar Ra`uufالرؤوفYang Maha Pengasuh
84Malikul Mulkمالك الملكYang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85Dzul Jalaali Wal Ikraamذو الجلال و الإكرامYang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86Al MuqsithالمقسطYang Maha Pemberi Keadilan
87Al Jamii`الجامعYang Maha Mengumpulkan
88Al GhaniyyالغنىYang Maha Kaya
89Al MughniiالمغنىYang Maha Pemberi Kekayaan
90Al MaaniالمانعYang Maha Mencegah
91Ad DhaarالضارYang Maha Penimpa Kemudharatan
92An Nafii`النافعYang Maha Memberi Manfaat
93An NuurالنورYang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94Al HaadiiالهادئYang Maha Pemberi Petunjuk
95Al BaadiiالبديعYang Indah Tidak Mempunyai Banding
96Al BaaqiiالباقيYang Maha Kekal
97Al WaaritsالوارثYang Maha Pewaris
98Ar RasyiidالرشيدYang Maha Pandai
99As ShabuurالصبورYang Maha Sabar

Selasa, 07 Juni 2011

Berjuang Sekuat-kuatnya Demi Keridhaan Allah

Seseorang yang ingin bersikap ikhlas dalam situasi apa pun, dihadapkan pada keharusan berjuang untuk mendapatkan keridhaan Allah. Perintah Allah tentang hal ini disebutkan di dalam ayat,

“... maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (al-Maa`idah [5]: 48)

Ayat lainnya menyatakan,

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Faathir [35]: 32)

Sebagaimana disebutkan dalam ayat ini, ada orang-orang yang “ambivalen” meski mereka percaya kepada Allah dan ada pula orang-orang “yang saling mengalahkan dalam kebaikan”. Seorang muslim yang ikhlas akan berusaha untuk bersegera dalam perbuatan baik. Dalam setiap detik hidupnya, ia berjuang untuk melakukan apa-apa yang membuat Allah ridha dan senang. Ia menggunakan semua yang ia miliki untuk menjadi salah satu hambanya yang saleh.
Perbedaan antara mereka yang ambilaven dan mereka yang berlomba satu sama lain dalam kebaikan, dapat dijelaskan sebagai berikut. Seseorang dihadapkan pada banyak peristiwa sepanjang hidupnya. Ia selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Ia harus memutuskan bagaimana berhadapan dengan masalah tersebut, apa yang harus dilakukan, dan sikap moral apa yang harus diterapkan? Pilihannya bergantung sepenuhnya pada kesadaran hatinya. Seorang mukmin sejati sangat berhati-hati dan waspada terhadap pilihan-pilihan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama tersebut. Jadi, ia menolak pilihan itu tanpa syarat dan akan mengambil yang paling dekat dengan Allah serta mendapatkan balasan yang paling besar di dalam surga. Kemampuannya untuk mematuhi kesadaran hatinya saat membuat keputusan adalah apa yang membuatnya mendapatkan keikhlasan. Di dalam Al-Qur`an, orang-orang beriman yang paling utama dalam perbuatan baik diabadikan dalam ayat,

“Sesungguhnya, orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (al-Mu`minuun [23]: 57-61)

Terlebih lagi, jika seseorang dihadapkan pada ribuan pilihan, mudah baginya untuk mengenal pilihan mana yang membuat Allah ridha dan senang. Pilihan ini jelas dan menjadi bukti bagi orang yang mencari cara mendekati Allah dan melihat apa yang terjadi padanya dengan kacamata keimanan. Sebagai contoh, ketika seseorang dipaksa untuk memilih sebuah cara untuk menghabiskan waktunya, ia akan dihadapkan pada sejumlah alternatif. Ia dapat menghabiskan seluruh waktunya untuk kegiatan olah raga atau menonton televisi di rumah. Ia bisa mengatakan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut menyenangkan Allah karena olah raga penting untuk kesehatan, sedangkan menonton televisi itu menambah pengetahuannya. Tentu saja, berolah raga dan menonton televisi itu bermanfaat dan penting. Akan tetapi, menghabiskan satu hari untuk berolah raga atau menonton televisi tidak dapat dinilai berhati-hati bagi seorang mukmin sejati jika ia menyadari bagaimana pola hidup-pola hidup yang tidak religius menjadi semakin lazim setiap hari; sementara perempuan, orang tua-orang tua, dan anak-anak sedang berada di bawah bayang-bayang pembunuhan di wilayah-wilayah muslim hanya karena mereka mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah,” peperangan, pertempuran, dan degenerasi moral terjadi di mana-mana. Tak diragukan lagi, menyebarkan kesempurnaan ajaran moral Al-Qur`an kepada orang lain dan berusaha menjadi alat supaya mereka bisa mendapatkan balasan di hari akhir, menjadi aktivitas yang selalu diinginkan olehnya. Ini adalah tanggung jawab yang harus dipikirkan oleh setiap muslim. Semua yang memilih alternatif ini akan melakukan amal saleh dan pengabdian agama demi kehidupannya di hari kemudian. Tetapi selain itu, ia juga akan mendapatkan balasan yang amat menyenangkan karena menjalankan agama sesuai dengan ketetapan ayat-ayat Al-Qur`an, seperti yang menjadi alat penyelamat bagi orang lain.
Allah menawarkan contoh berikut.

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at-Taubah [9]: 19-20)

Seperti yang dinyatakan dalam ayat ini, memberi air untuk orang-orang yang sedang berhaji atau menjaga Masjidil Haram juga merupakan perbuatan baik yang tepat untuk mendapatkan keridhaan Allah. Bagaimanapun juga, harus ditekankan bahwa orang-orang beriman yang membatasi tugas-tugas agama pada tugas-tugas tertentu saja—meski memiliki tanggung jawab lainnya—tidak boleh berpikir bahwa perbuatan itu cukup. Perbuatan ini tidak cukup jika dibandingkan dengan perbuatan orang lain yang berjuang dengan mengorbankan harta milik mereka dan hidup karena Allah. Bukanlah merupakan keikhlasan, memilih perbuatan yang kurang patut dihargai saat orang lain berpikir bahwa ada yang lebih sesuai dengan nilai moral Al-Qur`an. Ini menunjukkan bahwa ia semata-mata hanya peduli pada kenyamanan dan keamanan dirinya saja. Bagaimanapun juga, memilih kesempatan untuk mendapatkan keridhaan Allah atas hal-hal yang ada di dunia ini, merupakan pilihan yang sesuai dengan ajaran Al-Qur`an. Kesulitan tingkat amalan yang berseberangan dengan keinginan seseorang tidaklah penting. Pemahaman yang demikian memberikan keikhlasan kepada seorang mukmin sejati. Demikian pula amalan-amalan saleh, semua itu membawanya menuju keridhaan Allah, kasih sayang, dan balasan-Nya di dalam surga.

Tidak Takut kepada Siapa Pun kecuali Allah

Salah satu tanggung jawab setiap mukmin adalah menyadari kebenaran yang ada di dalam ayat berikut. Selain itu, mereka bertanggung jawab untuk mencapai tingkatan iman yang cukup untuk “takut kepada Allah dengan rasa takut yang patut kepada-Nya”.

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar [39]: 67)

Allah dapat dimuliakan jika seluruh sifat-Nya diketahui dengan baik dan wahyu-wahyu dari sifat-sifat tersebut tampak dan dipahami dalam setiap detik yang diberikan-Nya. Seseorang dapat merasa takut kepada Allah dan menahan dirinya, dan dengan demikian ia mendapatkan keimanan yang tulus, jika ia benar-benar memahami keluasan kebesaran-Nya.
Seseorang harus menyadari kebenaran bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar dari Allah, agar ia dapat memuliakan-Nya dengan sepatutnya. Mereka yang gagal menghargai Allah dengan sepatutnya, telah tertipu oleh kulit luar kehidupan dunia dan mendasarkan kehidupan mereka di atas tipuan ini. Mereka cenderung menghargainya dengan uang, kehormatan, dan kekuasaan yang mereka kira penting menurut nilai-nilai duniawi. Mereka cenderung untuk menegaskan nilai diri mereka dan salah mengartikannya sebagai manusia yang memiliki kekuatan dan status, dengan kemampuan untuk mengendalikan orang lain dan kehidupan. Karena itulah, mereka berusaha untuk mendapatkan cinta dan penghargaan dari orang lain. Mereka menghindari kegusaraan diri mereka dan takut menjadi sasaran dari bahaya yang mungkin mengenai mereka.
Jika Anda bertanya kepada mereka tentang iman mereka, sebagian mereka mengatakan bahwa mereka memiliki keimanan kepada Allah. Akan tetapi, orang-orang tersebut yang mengklaim bahwa mereka mengetahui dan mengakui Allah, cenderung menuhankan apa-apa yang mereka takuti sebagai sesuatu yang terlepas dari Allah. Pemikiran yang demikian menimpa keikhlasan ibadah mereka. Bahkan, membawa mereka untuk bersikap demikian demi untuk mendapatkan ridha orang lain tersebut bahwa mereka begitu terhormat dan dipuja-puja.
Walaupun demikian, tidak ada kekuatan lain yang dapat memberikan kebaikan atau keburukan kepada manusia tanpa seizing Allah. Di dalam ayat-ayat Al-Qur`an, Allah mengatakan hal ini,

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku.’ Kepada-Nyalah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (az-Zumar [39]: 38)

“... Katakanlah, ‘Maka sipakah (gerangan) yang dapat menghalang-menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’” (al-Fat-h [48]: 11)

Untuk menguatkan kebenaran ini, Allah mengingatkan manusia untuk tidak takut kepada apa pun selain Dia,

“... Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (al-Baqarah [2]: 150)

Tingkatan ajaran moral yang membantu seseorang untuk mendapatkan keimanan dan keikhlasan yang murni ini dapat dipelajari dari diri para nabi. Dalam Al-Qur`an telah ditekankan bahwa para nabi tidak takut kepada apa pun kecuali Allah. Ayat berikut menggarisbawahi fakta ini.

“Yaitu orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (al-Ahzab [33]: 39)

Setiap manusia yang berhasil memberikan hak Allah akan mengetahui bahwa tidak ada kekuatan lain selain Allah dan ia tidak pernah takut kepada siapa pun kecuali Dia. Ia juga mengetahui bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa seizin-Nya. Pemahaman ini membuat ia terus-menerus menyembah Allah dengan cara yang murni, tulus, dan bersih. Jika ia melakukan perbuatan baik, ia melakukannya bukan karena takut akan reaksi orang lain, melainkan karena ia akan gagal memenuhi perintah Allah jika ia tidak tulus. Demikian pula, ia melakukan perbuatan atau bersikap apa pun, bukan karena ia akan dihadapkan pada kemarahan orang lain, melainkan karena ia ingin mendapatkan kasih sayang Allah dan menghindari hukuman-Nya.
Sebagai contoh, ketika orang yang bekerja pada sebuah kantor diminta menyumbang untuk sebuah yayasan amal, sebagian orang akan melihat kesempatan tersebut sebagai kewajiban moral Al-Qur`an dan mereka menyumbang secara murni karena takut kepada Allah. Sementara itu, orang lain yang akan menyumbangkan uang berpikir bahwa teman-temannya mungkin akan berkata, “Betapa pelitnya dia!, atau jika ia tidak menyumbang, “ia satu-satunya orang yang tidak menyumbang!, atau, “ia mungkin tidak punya uang.” Mereka merasa terpaksa melakukannya karena mereka tidak ingin disangka negatif oleh orang lain. Sudah pasti, balasan terhadap amal orang tersebut di hadapan Allah akan sangat jauh dari balasan terhadap amal orang-orang yang ikhlas. Mereka telah menodai keikhlasan mereka dan telah menyimpang dari ajaran moral Al-Qur`an. Bagaimanapun juga, mereka yang berbuat sesuatu karena takut kepada Allah, berharap untuk dibalas hanya oleh-Nya.
Perbedaan antara mereka yang takut kepada Allah dan mereka yang takut kepada selain-Nya dapat dilihat pada saat kondisi yang tidak menguntungkan. Sebagai contoh, mari kita perhatikan seseorang yang biasa memanfaatkan keuntungan yang tidak adil di kantornya. Orang tersebut tetap tidak menggubris ketika diingatkan bahwa perbuatannya tidak akan diterima oleh Allah, tetapi ia akan segera berhenti berbuat demikian jika ia diingatkan bahwa perbuatan amoralnya itu akan terlihat oleh rekan dan kerabatnya. Walaupun demikian, ia selalu memiliki kesempatan untuk dapat membuat perubahan terhadap apa yang dilakukannya. Jika ia menyesali dengan tulus dan mengoreksi cara berpikirnya, ia mungkin bisa ikhlas melakukan sesuatu. Penting bagi setiap orang yang ingin berbuat ikhlas untuk memperhatikan cara yang benar sebagaimana contoh-contoh ini. Kami telah memberikan macam-macam kondisi yang biasanya kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ia harus memantau dirinya sendiri. Jika ia takut kepada makhluk selain Allah, ia harus membersihkan dirinya dari rasa takut tersebut jika ia ingin mencapai keikhlasan.